Showing posts with label Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Hikmah. Show all posts

Sunday, December 16, 2012

Masa Lalu

Masa lalu adalah petunjuk aktivitas hari ini dan menjadi arah untuk kegiatan esok hari. Masa lalu adalah pelajaran, tak ada yang menyiakan masa lalu melainkan dia yang tak mengerti begitu besar pelajaran darinya. Pelajaran dari masa lalu tidaklah semata kebaikan, kesenangan, kesuksesan atau gempita. Melainkan kegagalan, kegetiran atau pun celaka. Masing-masing menjadi bangunan hikmah menuju jalan kebijaksanaan.

Namun hari ini tidak banyak yang mengambil pelajaran dari masa lalu. Nasibnya banyak yang menjadi sampah yang tak pernah dilihat meski hanya sesekali. Seolah detik-detik kejadianya tak pernah merasa dimiliki. Sungguh apa jadinya hari ini tanpa masa lalu? Setiap prestasi hari ini itu adalah usaha-usaha masa lalu, pun dengan keburukan hari ini merupakan kesalahan-kesalahan di masa lalu. Tak akan ada hari ini bahkan hari esok jika tak diawali masa lalu. Dan hanya para pembusung dadalah yang tak pernah berterima kasih pada masa lalu. Seakan dirinya terlahir dalam kejapan mata hari ini.

Alangkah beruntungnya barang siapa yang dapat memanfaatkan masa lalu. Akan tetapi bukanlah berarti semua harus mengacu pada masa. Namun hikmah dan nilai itulah yang seharusnya  menjadi mutiara-mutiara penghias hari ini. Sang “mutiara putih” menjadi rujukan yang bisa dikembangkan, dan sang “mutiara hitam” menjadi batasan dan peringatan agar langkah-langkah hari ini dapat lebih hati-hati.

Ingat, dan Dia pun menekankan tentang masa lalu…

“Dan tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka, betapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami Binasakan, sedangkan mereka sendiri berjalan di tempat-tempat kediaman mereka itu. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah). Apakah mereka tidak mendengarkan (memperhatikan)?” (As Sajda :26)

Monday, August 6, 2012

Karakter dan kemenangan

Sesungguhnya segala kebaikan hanya milik Allah SWT, pemilik kasih sayang dan rahmat yang besar. Dan ucapan salawat selalu menjadi penghias pemiliki sifat mulia, Rasulullah SAW.

Kaidah kemenangan hidup menjelaskan bahwa jika hari ini lebih baik dari kemarin maka beruntunglah kita, jika hari ini sama dengan kemarin maka merugilah kita, dan jika hari ini lebih buruk dari kemarin maka celakalah kita. Hal itu telah jauh disampaiakn lebih dari 1000 tahun lalu oleh sang pencerah peradaban, Muhammad SAW. Titik poin yang ingin beliau sampaikan adalah jika ingin menjadi orang yang beruntung dengan kemenangan, maka kita harus tetap bekerja dan beramal. Ketika satu tambahan peluang waktu terlewat hingga terjadi stagnasi amal, maka kita dikatakan sebagai orang yang merugi. Apalagi jika terjadi degradasi amal, kita termasuk dalam golongan celaka. Untuk menjadi manusia pemenang  maka mengisi waktu dengan amal-amal pilihan adalah suatu keharusan.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Ar Ra’d 11). Ayat tersebut   menenkanan tentang produktivitas. Manusia harus berusaha sendiri untuk mentransformasikan diri menjadi pribadi pemenang, sebab tiada perubahan tanpa tindakan, tiada reaksi tanpa aksi, dan  tiada kemenangan tanpa pengorbanan. Semua membutuhkan usaha sebelum kita dapat menikmati buahnya.

Sejarah para pengukir peradaban selalu menghiasi hari-harinya dengan amalan yang produktif. Tidak sedikit pula kepenatan, kekecewaan, bahkan simbahan darah segar menjadi hidangan tambahan. Sebagaimana Nuh yang di hinakan oleh kaumnya, Ibrohim yang dibakar, Musa yang dikecewakan oleh tingkah bani isral, hingga Muhammad yang setiap saat selalu diintai dengan kematian. Namun mereka tetap tegar tanpa rasa keraguan menerangi jalan yang sesat nan gelap menuju cerahnya cahaya keimanan.  Mereka memiliki karakter yang kuat, hingga berbagai cobaan tak satupun yang mampu menghentikan mereka. Bahkan beratnya matahari dan bulan yang diletakkan dikedua telapak tangannya bukan menjadi alasan untuk menghentikan langkah. Tatkala orang-orang disekitarnya berbondong-bondong melakukan kebodohan dan kehinaan, pendirian mereka tidak goyah. Karakter yang mereka miliki bagai tebing yang kokoh, hasil pengalaman atas pergulatan hidup yang nyata.

Karakter yang kuat adalah perwujudan atas pilihan tegas dalam bersikap. Pembentukkanya tidak serta merta terjadi begitu instan. Rentang wantu dan kuantitas amal adalah faktor yang menentukan. Sebuah petuah mengatakan seorang nahkoda hebat dialah yang telah banyak merasakan ganasnya gempuran badai di kegelapan samudera. Kita pun tahu seorang balita harus melewati fase  tiarap, merangkak, bersandar hingga dapat berdiri tegap dengan menggunakan pijakan kakinya untuk berjalan. Semuanya membutuhkan proses yang kontinyu, fokus dan tentu kemauan yang kuat.

Dalam hal lain, sahabat adalah orang yang selalu memiliki hubungan dekat. Bisa jadi apa yang dilakukan dapat beresonansi kepada diri kita, sehingga kehadiran komunitas sosial bisa menjadi perkara yang perlu diperhatikan kualitasnya agar kepribadian kita dapat selalu meningkat setiap berinteraksi dengan mereka.

Demikian pula hari ini, sebagai pemuda kita harus mampu memperhatikan setiap aktivitas secara sadar dan mandiri . Ada banyak pilihan jalan didepan, tetapi harus ada pilihan sikap yang tepat. Kita pastikan bahwa setiap peluang waktu, kuantitas petualangan dan komunitas sosial dalam ruang-ruang kehidupan dapat membentuk karakter dan kepribadian yang kokoh. Sehingga kita dapat menjadi pribadi pemenang di masa depan yang selalu dikenang setiap perubahan zaman.

Friday, July 13, 2012

Jiwa yang tenang

Adakalanya kita merasakan begitu berat menjalani hidup. Semakin jauh melangkah semakin berat beban yang terasa. Adakalanya kita merasa penat dengan begitu banyak  kesibukkan yang tidak kunjung ada rehat. Rasa lelah kadang terasa begitu memasung jiwa hingga badan pun tak kuasa menyingsingkan tegapnya. Memanglah manusia selalu berkeluh kesah.

Akan tetapi, bagi pemilik jiwa yang tenang, dia paham bahwa hidup adalah sebuah permainan singkat saja. Permainan yang harus dijalani dengan niat yang lurus dan dengan aturan yang benar. Dirinya memahami bahwa dalam permainan itu akan terjadi perubahan-perubahan dalam lingkunganya. Perubahan yang sewaktu-waktu bisa terjadi bahkan dalam situasi yang ekstrim. Disaat terjadi perubahan-perubahan itu, dia berusaha memastikan diri agar tetap dalam kondisi sadar karena jika sedikitpun lengah jurang kegelapan akan menelanya dalam-dalam hingga terasa dingin, sunyi, dan gulita. Pemilik jiwa yang tenang sangat paham bahwa semua yang terjadi merupakan ujian kenaikkan jenjang sehingga dirinya selalu menyiapkan diri  dengan  ujian masa depan yang semakin bertambah kuantitas dan kualitasnya. Namun, pemiliki jiwa yang tenang bukanlah manusia yang dingin tanpa gairah dan ekspresi, bahkan sebenarnya dialah manusia yang mampu bergaya ideal dalam menggambarkan suara hati dan akalnya. Dia hanya bertindak wajar, sederhana dan jelas, tidak berlebihan hingga dapat menguras waktu untuk melanjutkan petualangan permainanya.

Ketenangan itu dia dapatkan dari mata air segala kehidupan, Sang Pencipta permainan. Dia selalu mendekatkan diri dengan sumber itu karena dengan meminum air dariNya, hilanglah beban hidup. Lepas darinya kepenatan, kelelahan, dan kegelisahan. Dirinya mendapatkan kekuatan berlipat-lipat hingga langkah menjadi begitu ringan, damai dan riang.

Sungguh indah pemilik jiwa yang tenang. Tidak dapat dimiliki melainkan bagi orang yang selalu mengambil dan meminum segarnya mata air segala kehidupan.

Monday, June 11, 2012

Ikhlas

Tidak mungkin seorang yang mencoba untuk ikhlas kemudain ia mengungkit-ungkit amal yang telah diperbuatnya. Pasti ia akan selalu menjaganya hingga tak siapapun tahu. Ketika ada seseorang yang melihatnya sedang beramal, ia tak berusaha memperindah. Dalam fikirnya hanya  balasan Allah yang menjadi tujuan. Ia tidak ada beda beramal ditempat ramai ataupun ditempat yang tak seorang meliatnya. Dirinnya tetap tegar betapapun lingkungan berusaha mempengaruhi. Cacian, hinaan, ejekan sekedar ia jadikan sebagai peringatan bahwa dirinya tidak seperti Rasul yang sempurna. Ia sadar akan hal itu dan tidak terlalu risau dari kebisingan ditelinga. Ia terus bergerak maju, istiqomah dan tetap tawadu’.  Jika dirinnya memang salah, dia segera mengevaluasi dan melakukan perbaikkan tanpa harus melawan untuk mempertahankan harga diri. Ia jalani hidup mengalir, seperti air yang selalu mencari celah untuk menuju ke muara kebahagiaan sejati. Namun pujian adalah sesuatu yang mengganggunya, ia tak senang jika orang-orang terlalu hiperbolis. Bahkan ia merasa malu untuk sekedar berbicara apa adanya, karena ia tahu semua hanya pemberian dariNya. Amalan-amalan yang telah diperbuat berusaha ia kubur dalam-dalam, rata dengan tanah, hingga tak menghalangi saat ia melanjutkan perjalanan. Akan tetapi suatu saat ada pihak-pihak yang sengaja membongkar kubur itu hingga dirinya terbayang-bayang oleh memori lama. Jika demikian, dia segera bergegas, lari secepat mungkin hingga keluar dari radius bahaya ledakan kesombongan. Bertahan dalam hati yang ikhlas memang sangatlah berat meskipun terlihat jauh lebih ringan dari pada sehelai serat kapas. Ikhlas hanya perkara hati, tidak nampak, tidak berasa, tetapi itulah perkara yang menentukan akan kemana penghujung dari hidup kita

Tuesday, June 5, 2012

Al Ukhuwah


Itulah ikatan yang tak akan pernah terputus
Menambat erat hati para pemintalnya
Hadirnya tak pernah padam oleh deras badai samudra
Menghangatkan mereka yang mendekapnya
Sejuknya sejernih embun di fajar tiba
Melambai ingatan saat alpa
Berbimbang rasa dikala tiba senja
Namun, kan kokoh jejak saat-saat bersama
Walau tak lagi canda dan tawa
Elok kisahnya bersemayam dalam dada
Itulah anugerah terindah dari Dzat Yang Esa
Semangka! Dan jangan putus Asa!
Senantiasa berkarya dimanapun berada
Luruskan niat dan hanya Allah ghoyatuna

Friday, March 2, 2012

Hening….

Dimasa langit bersemai bintang
Cahaya temaram memandang indah kehangatan
Merindu perjumpaan pada paras-paras yang menawan
Menyibak raut dengan senyum terkembang
Berdendang dendangan riang
Terbang ringan, menyusur palung sanubari
Padu melambai, lepas belenggu badai
Terhenyak
Hening…
Hening…
Titik kabut mengirim sendu
Melepas tali dalam rajutan sejati
Menjauh namun merengkuh asa
Teriring munjat para sahabat
Melangkah jauh dipersimpangan hari

Wednesday, February 15, 2012

Segenggam Batu

Sebuah kisah yang menggemparkan pernah terjadi di bumi jihad Palestina. Peristiwa yang menjadi rangkaian perjuangan indah para pemuda intifadah yang gagah perkasa. Disaat musuh memaki alat-alat berat untuk menghancurluluhkan seluruh apa yang ada, seorang pemuda Palestina yang tak satu pun senjata tempur dimilikinya, bahkan hanya dengan segenggam batu lalu diayunkan batu itu tepat ke sebuah tank musuh didekatnya, seketika itu hancurlah tank tersebut beserta kesombongan manusia-manusia biadab didalamnya. Karomah!

Ya, hanya segenggam batu, bukan sebongkah, apalagi segunung batu. Secara logika tak ada rumus fisika yang dapat menerangkan bagaimana peristiwa itu bisa terjadi. Sehingga meskipun sekaliber Richard Feynmen (fisikawan) ketika disodorkan selembar permasalahan yang sama, dia mungkin hanya menuliskan tanda tanya besar sesuai dengan apa yang terlintas diotaknya. Orang-orang yang dibutakan hantinya dengan rasa sombong juga berkata, “sungguh itu hal biasa, semua bisa terjadi dalam peperangan di abad modern ini!”, tetapi seorang Al Akh, yang didalam hatinya ada pancaran cahaya iman akan menanggapinya,”itulah pertolongaNya yang nyata!, Allahu Akhbar!”

“..jika kamu menolong Allah, maka Dia akan menolongmu..”
(Muhammad : 7)

Itulah janji yang nyata dari Rabb Yang Maha Perkasa. Dia tidak akan menyalahi janji yang telah dibuatNya. Kisah diatas adalah satu dari sekian catatan para pejuang kebenaran. Allah tidak memandang tentang kekuatan tempur, pun juga tidak melihat seberapa besar kekar tubuhnya. Namun Allah melihat secerah apa pancaran iman di dalam dada yang dibuktikan dengan sikap yang terus istiqomah membela Izzah Islam yang mulia.

Perkara itulah yang seharusnya diingat dan diyakini benar-benar oleh seorang Al Akh dalam setiap aktivitas dakwahnya. Dia tidak akan goyah, meskipun masalah demi masalah datang melanda. Dihadapanya berupa gunung yang menjulang, tetapi dilihatnya hanya suatu yang tak merisaukan. Kuliah, maisyah, atau hal-hal lain yang menurut orang awam adalah masalah yang susah, tetapi Sang Al Akh akan tetap percaya akan pertolonganNya. Dia menjadi ringan dan rileks dalam perkara dunia, sehingga dia pun dapat fokus untuk menjalankan misi mengajak manusia ke jalan kebenaran.

Asalkan dapat “menolong”Nya meskipun hanya segenggam batu kerikil, Allah melihat itu adalah usaha yang besar. Dan Allah akan melipatgandakan balasan usaha itu menjadi kebaikkan yang sangat besar, baik untuk balasan dunia maupun nanti di akhirat. Seringkali kebaikkan itu tidak disangka-sangka datangnya. Suatu ketika sang Al Akh menghadapi permasalahan yang genting, dia intens menghadap Rabbnya untuk mengadu beberapa urusan. Tiba-tiba sebuah kado pertolong datang dengan begitu saja. Sontak sang Al Akh membuncah riang, “Alhamdulillah Ya Rabb, sungguh benar janjiMu”. Tidak seperti Korun yang mengeras hatinya setelah menggenggam kunci-kunci kekayaan dunia, namun sang Al Akh lantas semakin bertambah khusu’ dalam melaksanakan kewajiban kepadaNya. Dia semakin bergairah dan gigih, memacu jantung dan paru-parunya. Berlari dan terus melaju mendamba Syuhada.

Segenggam batu, sungguh adalah kekuatan besar yang bersumber dari ruh keyakinan!

Friday, January 27, 2012

Kekerdilan

Sangat menyedihkan dan sekaligus menjengkelkan memang. Dahulu, dalam Rahim-rahim mereka muncul para manusia yang mendapat titah Tuhan. Dalam keturunan mereka pula tertahta para raja-raja yang berkuasa. Lain lagi, mereka telah diselamatkan dari kekuasaan tiran, yang karena saking congkaknya sang Raja bahkan mengaku sebagai tuhan. Hebat benar dia. Mereka berlari bersama seorang juru selamat . Hingga ketika ditepi lautan, dengan kekuasaanNya sang juru selamat dapat menyeberangkan mereka ke tanah seberang. Sang “tuhan” itu pun akhirnya tertinggal dan tenggelam dalam pengakuan tauhid yang sia-sia.

Namun, apa pula balasan yang mereka berikan? Disaat mereka diminta untuk masuk kedalam tanah yang telah ditentukan oleh sang juru selamat, tak satupun diantara keturunan yang diberkati itu menyambut seruanya, melainkan sebagian kecil saja! Padahal tak ada halangan bagi mereka untuk pergi, tak ada yang perlu mereka takutkan. Hanya pandangan tak terbukti bahwa didalam tanah itu terdiam musuh-musuh jawara tak terkalahkan, yang menjadi dinding penghalang. Bahkan sungguh tak bermoral! dengan sangat sopan dan santunya mereka memerintahkan sang juru selamat dan Tuhannya sendiri untuk melaksanakan ketetapan itu, sedangkan mereka hanya ingin menunggu dibelakang berpangku tangan.

Bani Israil, sungguh mereka telah dilaknat Tuhan, hingga disesatkan dalam padang berpasir putih selama 40 tahun lamanya. Tak ada balasan oleh siapa dulu mereka telah diselamatkan. Garis-garis unggul keturunanya pun terhinakan sendiri oleh ilusi-ilusi hiperbolis dari matanya.

Semuanya berawal dari kekerdilan jiwa, yang menganggap karunia diri lebih kecil daripada peluang yang ada. Dan menganggap tantangan didepan lebih besar daripada prestasi-prestasi yang telah dilakukanya. Sehingga timbulah apa yang dinamakan dengan “Loser Syndrom”atau trauma kekalahan. Itulah yang dialami oleh pengikut-pengikut Musa AS diatas, yang tidak sedikit pun memiliki keberanian untuk memasuki tanah baru karena anggapan mereka tentang adanya manusia-manusia besar didalamnya. Sindrom yang sangat akut itu, hingga mereka keterlaluan menyuruh Nabi dan Tuhannya sendiri untuk melaksanakanya.

Kekerdilan jiwa bisa menimpa seseorang yang tidak memiliki tawakal yang mantap dan tidak memiliki rasa syukur yang besar. Dirinya akan mudah goyah dan bimbang ketika akan menghadapi suatu tantangan berbeda yang belum pernah dialami. Dia kemudian memilih untuk mengurungkan niatnya, menjauh dan berpaling kepada perkara-perkara kecil.

Kita bisa melihat perbedaanya pada perang Badar. Meskipun jumlah pasukan muslimin saat itu baru terhimpun 200an orang ditambah peralatan perang yang sangat minim dan sederhana, namun dengan gagah berani, tak gentar sedikitpun melawan hingga mereka dapat mengalahkan pasukan jahiliyah yang mencapai 1000an orang. Mereka yakin bahwa segala hasil hanya Allah yang menentukan, hanya saja mereka berani mengambil ikhtiar yang lebih besar risikonya. Bagi mereka segala hasil adalah baik perkaranya, syahid atau mendapatkan kemenangan. Hal itu juga karena rasa syukur yang mereka tampakkan, meskipun dengan segala kondisi yang efisien, tetapi mampu memberi perubahan yang sangat efektif.

Ingatlah kita tentang suatu ketetapan bahwa seorang yang benar-benar beriman, maka dia akan sepadan kekuatanya dengan sepuluh manusia di bumi, dan serendah-rendahnya kekuatan seorang mukmin adalah sebanding dengan dua manusia di bumi.

Maka yakinlah kita, sesungguhnya kekerdilan jiwa hanya mendatangkan penyesalan bahkan azab besar dariNya. Naudzubillah..

Wednesday, January 25, 2012

Militansi

Tidaklah semudah membangun suatu bangunan, karena perjuangan menebar kebenaran akan selalu ada rintangan dan tantanganya. Itulah sunatullah yang berlaku dan kepastian yang akan tetap terjadi. Bagi seorang Al Akh adalah adalah hal yang biasa, ia bergumul dengan debu dan lumpur perjuangan. Berat memang rasanya untuk terus melangkah sedangkan beban-beban terus bertambah dikanan, dikiri, bahkan disemua arah!

Namun tak satupun yang dapat menyurutkan langkah mantapnya, dan ia tak perlu berkeluh kesah dan mengungkit-ungkit apa yang terjadi didepan kawan-kawanya. Tak seorang pun tahu pasti apa yang telah dilakukanya, karena hanya Dialah Yang Maha Tahu. Diakala yang lain meminta pengakuan dan pemakluman, Sang Al Akh tak menghiraukan apalah kata dunia. Dia hanya berujar, “sungguh itu terjadi karena kealpaanku!”, dan setiap apa yang telah dilakukan pastilah ia tahu konsekuensinya. Seketika itu lalu keluarlah kata-kata pengharapan kepada Rabbnya, semoga hal itu tidak terjadi untuk yang kedua kalinya dan semoga Allah tetap meridhoi perjalanan pada langkah berikutnya.

Keyakinan “Dialah yang menjamin bahwa setiap hal yang terjadi telah diperhitungkan sesuai dengan kadar kesanggupaanya” menjadikan sang Al Akh selalu menegakkan kepalanya untuk menatap jauh di masa depan yang penuh dengan warna kecerahan. Ia tak gusar biarpun orang-orang disekitar mulai meregang dan menjauh dari jangkauanya, meskipun mereka adalah sahabat-sahabatnya sendiri. Tidaklah ada hak untuk memaksa siapapun untuk berada pada jalan yang benar, karena tugas sang Al Akh adalah hanya memberikan Nasihat dan Peringatan. Dan sang Al Akh hanya fokus pada apa yang menjadi tanggung jawabnya. Sehingga biarpun seluruh kaki dan tangan telah tertebas parah, namun mulutpun masih dapat berbicara untuk menunaikanya.

Seruan dan panggilan kebenaran tak satupun terlewatkan, kecuali karena alpa dengan begitu besarnya resonansi. Tak ada niatan apapun kecuali hanya balasaNyalah yang tersirat jelas. Kelelahan, payah, penat sekali lagi adalah hal yang lumrah bagi seorang Al Akh, dan dia akan terus memompa ghirohnya hingga pada batas limit kesanggupan. Sesekali orang lain mengamati perubahan sikap yang agresif itu sebagai tindakan yang tak wajar. Namun hal itu perlakuan yang biasa dipilih untuk menaikkan moral setip sel-sel diriny yang telah lesu bekerja.

Tetap mengingat Rabb semesta dikala apapun bisa menjadi penawar segala buaian dahaga, dan itulah rutinitas yang selalu diikhtiarkan oleh sang Al Akh untuk menjaga militansinya.

Saturday, April 23, 2011

Keputusan

Suatu ketika sang al akh dihadapkan pada perkara-perkara yang membutuhkan penyelesaian dengan segera. Ia tidak memiliki banyak waktu untuk menimbang cara apa yang tepat untuk menyelesaikan perkara-perkara tersebut. tetapi sebisa mungkin sang al akh tidak menunjukkan kepanikan sedikitpun kepada orang lain, karena ia tahu semakin dirinya terlihat panik, para sahabat disekitarnya akan dapat terpengaruh olehnya, sehingga segala jalan akhirnya tertutup oleh debu hitam yang sulit untuk cerah kembali.

Sang al akh hanya menyandarkan diri pada Yang Maha Pengasih untuk membantu keluar dari masalah itu. Dan ia terus berusaha meneliti dan mencermati langkah apa yang seharusnya ia ambil. sebenarnya sangat mudah untuk memutuskan suatu tindakan, tetapi yang membuat sulit adalah apakah keputusan yang telah diambil itu akan dapat memberikan penyelesaian atau justru hanya menambah minyak dalam kobaran api yang kian mengganas.

Keyakinan dan keimanan adalah modal bagi sang al akh untuk tetap bertahan dalam segala kondisi. Dirinya yakin bahwa selama masih dalam jalan kebenaran, setiap langkah yang diambil akan menuntunya semakin keluar dari pusaran permasalahan. Yang menjadi masalah berikutnya adalah apakah langkah itu merupakan pilihan yang efisien, karena orang-orang disekitarnya sering kali memikirkan hal itu juga. Namun, ia harus tetap mengambil keputusan dengan cepat jika tidak ingin terlambat. Segala konsekuensi tentunya sudah siap ia alami. Apapun yang terjadi tiada lain itulah kehendakNya, sebagai ujuan untuk mendapatkan balasan yang abadi

Friday, December 10, 2010

Galau

Suatu amalan sunnah yang telah biasa dikerjakan, maka bagi pelakunya akan mengalami penyesalan yang dalam jika dia tidak dapat mengerjakan diwaktu yang biasa dia luangkan untuknya
Seorang Al Akh yang mengalami kejadian itu, dia kemudian berusaha agar amalan yang dia tinggalkan itu dapat tergantikan dengan amalan sunnah lainnya, karena terdorong dengan perasaan hati yang menuntutnya bersikap demikian. Perasaan penyesalan terjadi membuatnya gelisah, dia tetap mengharapkan kejadian itu tidak pernah terjadi dan berusaha bagaimana dia dapat menebusnya. Dia menanggapi permasalahan itu dengan serius sama seperti ketika ia berurusan dengan perkara yang wajib (fardu).
Al Akh itu benar-benar memperhitungkan bahwa seberapa amalan yang dilakukan, akan berefek pada kerja-kerja dakwahnya. Prinsip “Disiang hari bagai penunggang kuda yang gagah berani, dan dimalam hari bak rahib-rahib ahli ibadah”, ia pegang teguh dengan semangat penuh militansi. Sang Al Akh juga sesekali terngiang oleh pesan Al Faruq kepada para pasukkanya, bahwa yang dia takutkan bukanlah kekuatan yang dimiliki musuhnya, tetapi takut kepada dosa-dosa yang dilakukan oleh para pasukkanya.
Sang Al Akh bahkan hingga merasa diliputi perasaan bersalah, karena dia menyadari keistiqomahan yang selam ini dibangun tidak dapat dia pertahankan dengan baik. Namun, kemudian dia memiliki keyakinan dan optimisme yang kuat untuk melakukan perbaikan setelahnya dan berazam bahwa peluang hari esok harus diupayakan secara maksimal. Dan sang Al Akh pun menyandarkan urusan itu kepada Rabbnya.

Tuesday, October 19, 2010

Realisasi iman butuh dari sekedar angan-angan

Iman suatu perkara yang abstrak tak berwujud, tak terjamah oleh jari-jemari tangan, tak berbau dan apapun warnanya tiada yang tahu...
Suatu yang tak tampak,
suatu yang tak ada namun ada
suatu yang mengalir dan terus berubah dalam geraknya...

akan tetapi, dalam bentuk perwujudan lainnya dia (iman) dapat disaksikan oleh sepasang mata, terasa debar menggetarkankan hati, dan melantunkan kalimat-kalimat yang teguh

bukan angan-angan agar terwujudkan keimanan, karna angan-angan tak ubahnya suatu kesia-siaan waktu belaka, tak ada hasil keculai angan-angan yang semaikn berkhayal tinggi bahkan hingga tak tahu mana yang asli

tapakan kaki_pukulan tangan dan segala gerak lidah itulah yang harus dilakukan
berbuat tidak hanya berkata.....

Monday, October 18, 2010

ia tiada batas.....

Dia lah yang membuat karang tetap berdiri kokoh dari hantaman badai, dialah yang mampu menggali batu cadas biarpun hanya dengan tetesan air, dan dialah yang mengantarkan salmon-salmon mendaki ke hulu air diatas tingginya pegunungan....
sabar....itu lah dia
terasa bahagia akan hadirnya
ringan terasa hidup, biarpun prahara melanda
memantapkan tiap langkah
mengukuhkan hati yang dirundung gelisah
kau teman saat yang lain menjadi lawan
kau ada saat hati memanggilnya
kau abadi dalam diri yang teguh dalam menetapi
kau ada hingga asa tergapai sempurna

Tuesday, April 13, 2010

Kunci Itu Bernama Syahadat

Tiada akhir yang nikmat, tiada batas tepi yang dahsyat,tiada muara yang bahagai jika disana tak ditemukan secuilpun syahadat....

Itulah syahadat, kunci pembuka kenikmatan nian abadi.Tanpa kunci ini segala apapun akan terlihat hampa tanpa arti. Biarpun diri berkuyup keringat, bahkan tergenang linangan darah semerah cerah, namun tanpanya tiadalah suatu makna yang bisa digadai dengan limpahan kenikmatan

Itulah Kunci yang sangat mudah kita dapat, bahkan penjual brangpun tiada yang menawarkanya. Memang sesungguhnya kunci yang satu ini tiada terlihat dan tiada bernbilang. Tiada yang dapat menyentuh sekalipun jua mencium aromanya

ya karena ia suatu yang hanya bisa kita rasakan dalam hati kita. Memang begitu ringan Namun bahkan banyak orang yang berguguran untuk teguh memegangnya

Itulah syahadat tampak ringan tanpa beban. Hanya mereka yang telah "berserah diri"lah
pemegang sejati kunci itu