Friday, December 10, 2010

Galau

Suatu amalan sunnah yang telah biasa dikerjakan, maka bagi pelakunya akan mengalami penyesalan yang dalam jika dia tidak dapat mengerjakan diwaktu yang biasa dia luangkan untuknya
Seorang Al Akh yang mengalami kejadian itu, dia kemudian berusaha agar amalan yang dia tinggalkan itu dapat tergantikan dengan amalan sunnah lainnya, karena terdorong dengan perasaan hati yang menuntutnya bersikap demikian. Perasaan penyesalan terjadi membuatnya gelisah, dia tetap mengharapkan kejadian itu tidak pernah terjadi dan berusaha bagaimana dia dapat menebusnya. Dia menanggapi permasalahan itu dengan serius sama seperti ketika ia berurusan dengan perkara yang wajib (fardu).
Al Akh itu benar-benar memperhitungkan bahwa seberapa amalan yang dilakukan, akan berefek pada kerja-kerja dakwahnya. Prinsip “Disiang hari bagai penunggang kuda yang gagah berani, dan dimalam hari bak rahib-rahib ahli ibadah”, ia pegang teguh dengan semangat penuh militansi. Sang Al Akh juga sesekali terngiang oleh pesan Al Faruq kepada para pasukkanya, bahwa yang dia takutkan bukanlah kekuatan yang dimiliki musuhnya, tetapi takut kepada dosa-dosa yang dilakukan oleh para pasukkanya.
Sang Al Akh bahkan hingga merasa diliputi perasaan bersalah, karena dia menyadari keistiqomahan yang selam ini dibangun tidak dapat dia pertahankan dengan baik. Namun, kemudian dia memiliki keyakinan dan optimisme yang kuat untuk melakukan perbaikan setelahnya dan berazam bahwa peluang hari esok harus diupayakan secara maksimal. Dan sang Al Akh pun menyandarkan urusan itu kepada Rabbnya.

No comments:

Post a Comment