Sebuah kisah yang menggemparkan pernah terjadi di bumi jihad Palestina. Peristiwa yang menjadi rangkaian perjuangan indah para pemuda intifadah yang gagah perkasa. Disaat musuh memaki alat-alat berat untuk menghancurluluhkan seluruh apa yang ada, seorang pemuda Palestina yang tak satu pun senjata tempur dimilikinya, bahkan hanya dengan segenggam batu lalu diayunkan batu itu tepat ke sebuah tank musuh didekatnya, seketika itu hancurlah tank tersebut beserta kesombongan manusia-manusia biadab didalamnya. Karomah!
Ya, hanya segenggam batu, bukan sebongkah, apalagi segunung batu. Secara logika tak ada rumus fisika yang dapat menerangkan bagaimana peristiwa itu bisa terjadi. Sehingga meskipun sekaliber Richard Feynmen (fisikawan) ketika disodorkan selembar permasalahan yang sama, dia mungkin hanya menuliskan tanda tanya besar sesuai dengan apa yang terlintas diotaknya. Orang-orang yang dibutakan hantinya dengan rasa sombong juga berkata, “sungguh itu hal biasa, semua bisa terjadi dalam peperangan di abad modern ini!”, tetapi seorang Al Akh, yang didalam hatinya ada pancaran cahaya iman akan menanggapinya,”itulah pertolongaNya yang nyata!, Allahu Akhbar!”
“..jika kamu menolong Allah, maka Dia akan menolongmu..”
(Muhammad : 7)
Itulah janji yang nyata dari Rabb Yang Maha Perkasa. Dia tidak akan menyalahi janji yang telah dibuatNya. Kisah diatas adalah satu dari sekian catatan para pejuang kebenaran. Allah tidak memandang tentang kekuatan tempur, pun juga tidak melihat seberapa besar kekar tubuhnya. Namun Allah melihat secerah apa pancaran iman di dalam dada yang dibuktikan dengan sikap yang terus istiqomah membela Izzah Islam yang mulia.
Perkara itulah yang seharusnya diingat dan diyakini benar-benar oleh seorang Al Akh dalam setiap aktivitas dakwahnya. Dia tidak akan goyah, meskipun masalah demi masalah datang melanda. Dihadapanya berupa gunung yang menjulang, tetapi dilihatnya hanya suatu yang tak merisaukan. Kuliah, maisyah, atau hal-hal lain yang menurut orang awam adalah masalah yang susah, tetapi Sang Al Akh akan tetap percaya akan pertolonganNya. Dia menjadi ringan dan rileks dalam perkara dunia, sehingga dia pun dapat fokus untuk menjalankan misi mengajak manusia ke jalan kebenaran.
Asalkan dapat “menolong”Nya meskipun hanya segenggam batu kerikil, Allah melihat itu adalah usaha yang besar. Dan Allah akan melipatgandakan balasan usaha itu menjadi kebaikkan yang sangat besar, baik untuk balasan dunia maupun nanti di akhirat. Seringkali kebaikkan itu tidak disangka-sangka datangnya. Suatu ketika sang Al Akh menghadapi permasalahan yang genting, dia intens menghadap Rabbnya untuk mengadu beberapa urusan. Tiba-tiba sebuah kado pertolong datang dengan begitu saja. Sontak sang Al Akh membuncah riang, “Alhamdulillah Ya Rabb, sungguh benar janjiMu”. Tidak seperti Korun yang mengeras hatinya setelah menggenggam kunci-kunci kekayaan dunia, namun sang Al Akh lantas semakin bertambah khusu’ dalam melaksanakan kewajiban kepadaNya. Dia semakin bergairah dan gigih, memacu jantung dan paru-parunya. Berlari dan terus melaju mendamba Syuhada.
Segenggam batu, sungguh adalah kekuatan besar yang bersumber dari ruh keyakinan!
Ya, hanya segenggam batu, bukan sebongkah, apalagi segunung batu. Secara logika tak ada rumus fisika yang dapat menerangkan bagaimana peristiwa itu bisa terjadi. Sehingga meskipun sekaliber Richard Feynmen (fisikawan) ketika disodorkan selembar permasalahan yang sama, dia mungkin hanya menuliskan tanda tanya besar sesuai dengan apa yang terlintas diotaknya. Orang-orang yang dibutakan hantinya dengan rasa sombong juga berkata, “sungguh itu hal biasa, semua bisa terjadi dalam peperangan di abad modern ini!”, tetapi seorang Al Akh, yang didalam hatinya ada pancaran cahaya iman akan menanggapinya,”itulah pertolongaNya yang nyata!, Allahu Akhbar!”
“..jika kamu menolong Allah, maka Dia akan menolongmu..”
(Muhammad : 7)
Itulah janji yang nyata dari Rabb Yang Maha Perkasa. Dia tidak akan menyalahi janji yang telah dibuatNya. Kisah diatas adalah satu dari sekian catatan para pejuang kebenaran. Allah tidak memandang tentang kekuatan tempur, pun juga tidak melihat seberapa besar kekar tubuhnya. Namun Allah melihat secerah apa pancaran iman di dalam dada yang dibuktikan dengan sikap yang terus istiqomah membela Izzah Islam yang mulia.
Perkara itulah yang seharusnya diingat dan diyakini benar-benar oleh seorang Al Akh dalam setiap aktivitas dakwahnya. Dia tidak akan goyah, meskipun masalah demi masalah datang melanda. Dihadapanya berupa gunung yang menjulang, tetapi dilihatnya hanya suatu yang tak merisaukan. Kuliah, maisyah, atau hal-hal lain yang menurut orang awam adalah masalah yang susah, tetapi Sang Al Akh akan tetap percaya akan pertolonganNya. Dia menjadi ringan dan rileks dalam perkara dunia, sehingga dia pun dapat fokus untuk menjalankan misi mengajak manusia ke jalan kebenaran.
Asalkan dapat “menolong”Nya meskipun hanya segenggam batu kerikil, Allah melihat itu adalah usaha yang besar. Dan Allah akan melipatgandakan balasan usaha itu menjadi kebaikkan yang sangat besar, baik untuk balasan dunia maupun nanti di akhirat. Seringkali kebaikkan itu tidak disangka-sangka datangnya. Suatu ketika sang Al Akh menghadapi permasalahan yang genting, dia intens menghadap Rabbnya untuk mengadu beberapa urusan. Tiba-tiba sebuah kado pertolong datang dengan begitu saja. Sontak sang Al Akh membuncah riang, “Alhamdulillah Ya Rabb, sungguh benar janjiMu”. Tidak seperti Korun yang mengeras hatinya setelah menggenggam kunci-kunci kekayaan dunia, namun sang Al Akh lantas semakin bertambah khusu’ dalam melaksanakan kewajiban kepadaNya. Dia semakin bergairah dan gigih, memacu jantung dan paru-parunya. Berlari dan terus melaju mendamba Syuhada.
Segenggam batu, sungguh adalah kekuatan besar yang bersumber dari ruh keyakinan!
No comments:
Post a Comment