Sangat menyedihkan dan sekaligus menjengkelkan memang. Dahulu, dalam Rahim-rahim mereka muncul para manusia yang mendapat titah Tuhan. Dalam keturunan mereka pula tertahta para raja-raja yang berkuasa. Lain lagi, mereka telah diselamatkan dari kekuasaan tiran, yang karena saking congkaknya sang Raja bahkan mengaku sebagai tuhan. Hebat benar dia. Mereka berlari bersama seorang juru selamat . Hingga ketika ditepi lautan, dengan kekuasaanNya sang juru selamat dapat menyeberangkan mereka ke tanah seberang. Sang “tuhan” itu pun akhirnya tertinggal dan tenggelam dalam pengakuan tauhid yang sia-sia.
Namun, apa pula balasan yang mereka berikan? Disaat mereka diminta untuk masuk kedalam tanah yang telah ditentukan oleh sang juru selamat, tak satupun diantara keturunan yang diberkati itu menyambut seruanya, melainkan sebagian kecil saja! Padahal tak ada halangan bagi mereka untuk pergi, tak ada yang perlu mereka takutkan. Hanya pandangan tak terbukti bahwa didalam tanah itu terdiam musuh-musuh jawara tak terkalahkan, yang menjadi dinding penghalang. Bahkan sungguh tak bermoral! dengan sangat sopan dan santunya mereka memerintahkan sang juru selamat dan Tuhannya sendiri untuk melaksanakan ketetapan itu, sedangkan mereka hanya ingin menunggu dibelakang berpangku tangan.
Bani Israil, sungguh mereka telah dilaknat Tuhan, hingga disesatkan dalam padang berpasir putih selama 40 tahun lamanya. Tak ada balasan oleh siapa dulu mereka telah diselamatkan. Garis-garis unggul keturunanya pun terhinakan sendiri oleh ilusi-ilusi hiperbolis dari matanya.
Semuanya berawal dari kekerdilan jiwa, yang menganggap karunia diri lebih kecil daripada peluang yang ada. Dan menganggap tantangan didepan lebih besar daripada prestasi-prestasi yang telah dilakukanya. Sehingga timbulah apa yang dinamakan dengan “Loser Syndrom”atau trauma kekalahan. Itulah yang dialami oleh pengikut-pengikut Musa AS diatas, yang tidak sedikit pun memiliki keberanian untuk memasuki tanah baru karena anggapan mereka tentang adanya manusia-manusia besar didalamnya. Sindrom yang sangat akut itu, hingga mereka keterlaluan menyuruh Nabi dan Tuhannya sendiri untuk melaksanakanya.
Kekerdilan jiwa bisa menimpa seseorang yang tidak memiliki tawakal yang mantap dan tidak memiliki rasa syukur yang besar. Dirinya akan mudah goyah dan bimbang ketika akan menghadapi suatu tantangan berbeda yang belum pernah dialami. Dia kemudian memilih untuk mengurungkan niatnya, menjauh dan berpaling kepada perkara-perkara kecil.
Kita bisa melihat perbedaanya pada perang Badar. Meskipun jumlah pasukan muslimin saat itu baru terhimpun 200an orang ditambah peralatan perang yang sangat minim dan sederhana, namun dengan gagah berani, tak gentar sedikitpun melawan hingga mereka dapat mengalahkan pasukan jahiliyah yang mencapai 1000an orang. Mereka yakin bahwa segala hasil hanya Allah yang menentukan, hanya saja mereka berani mengambil ikhtiar yang lebih besar risikonya. Bagi mereka segala hasil adalah baik perkaranya, syahid atau mendapatkan kemenangan. Hal itu juga karena rasa syukur yang mereka tampakkan, meskipun dengan segala kondisi yang efisien, tetapi mampu memberi perubahan yang sangat efektif.
Ingatlah kita tentang suatu ketetapan bahwa seorang yang benar-benar beriman, maka dia akan sepadan kekuatanya dengan sepuluh manusia di bumi, dan serendah-rendahnya kekuatan seorang mukmin adalah sebanding dengan dua manusia di bumi.
Maka yakinlah kita, sesungguhnya kekerdilan jiwa hanya mendatangkan penyesalan bahkan azab besar dariNya. Naudzubillah..
Namun, apa pula balasan yang mereka berikan? Disaat mereka diminta untuk masuk kedalam tanah yang telah ditentukan oleh sang juru selamat, tak satupun diantara keturunan yang diberkati itu menyambut seruanya, melainkan sebagian kecil saja! Padahal tak ada halangan bagi mereka untuk pergi, tak ada yang perlu mereka takutkan. Hanya pandangan tak terbukti bahwa didalam tanah itu terdiam musuh-musuh jawara tak terkalahkan, yang menjadi dinding penghalang. Bahkan sungguh tak bermoral! dengan sangat sopan dan santunya mereka memerintahkan sang juru selamat dan Tuhannya sendiri untuk melaksanakan ketetapan itu, sedangkan mereka hanya ingin menunggu dibelakang berpangku tangan.
Bani Israil, sungguh mereka telah dilaknat Tuhan, hingga disesatkan dalam padang berpasir putih selama 40 tahun lamanya. Tak ada balasan oleh siapa dulu mereka telah diselamatkan. Garis-garis unggul keturunanya pun terhinakan sendiri oleh ilusi-ilusi hiperbolis dari matanya.
Semuanya berawal dari kekerdilan jiwa, yang menganggap karunia diri lebih kecil daripada peluang yang ada. Dan menganggap tantangan didepan lebih besar daripada prestasi-prestasi yang telah dilakukanya. Sehingga timbulah apa yang dinamakan dengan “Loser Syndrom”atau trauma kekalahan. Itulah yang dialami oleh pengikut-pengikut Musa AS diatas, yang tidak sedikit pun memiliki keberanian untuk memasuki tanah baru karena anggapan mereka tentang adanya manusia-manusia besar didalamnya. Sindrom yang sangat akut itu, hingga mereka keterlaluan menyuruh Nabi dan Tuhannya sendiri untuk melaksanakanya.
Kekerdilan jiwa bisa menimpa seseorang yang tidak memiliki tawakal yang mantap dan tidak memiliki rasa syukur yang besar. Dirinya akan mudah goyah dan bimbang ketika akan menghadapi suatu tantangan berbeda yang belum pernah dialami. Dia kemudian memilih untuk mengurungkan niatnya, menjauh dan berpaling kepada perkara-perkara kecil.
Kita bisa melihat perbedaanya pada perang Badar. Meskipun jumlah pasukan muslimin saat itu baru terhimpun 200an orang ditambah peralatan perang yang sangat minim dan sederhana, namun dengan gagah berani, tak gentar sedikitpun melawan hingga mereka dapat mengalahkan pasukan jahiliyah yang mencapai 1000an orang. Mereka yakin bahwa segala hasil hanya Allah yang menentukan, hanya saja mereka berani mengambil ikhtiar yang lebih besar risikonya. Bagi mereka segala hasil adalah baik perkaranya, syahid atau mendapatkan kemenangan. Hal itu juga karena rasa syukur yang mereka tampakkan, meskipun dengan segala kondisi yang efisien, tetapi mampu memberi perubahan yang sangat efektif.
Ingatlah kita tentang suatu ketetapan bahwa seorang yang benar-benar beriman, maka dia akan sepadan kekuatanya dengan sepuluh manusia di bumi, dan serendah-rendahnya kekuatan seorang mukmin adalah sebanding dengan dua manusia di bumi.
Maka yakinlah kita, sesungguhnya kekerdilan jiwa hanya mendatangkan penyesalan bahkan azab besar dariNya. Naudzubillah..
No comments:
Post a Comment