Wednesday, January 25, 2012

Militansi

Tidaklah semudah membangun suatu bangunan, karena perjuangan menebar kebenaran akan selalu ada rintangan dan tantanganya. Itulah sunatullah yang berlaku dan kepastian yang akan tetap terjadi. Bagi seorang Al Akh adalah adalah hal yang biasa, ia bergumul dengan debu dan lumpur perjuangan. Berat memang rasanya untuk terus melangkah sedangkan beban-beban terus bertambah dikanan, dikiri, bahkan disemua arah!

Namun tak satupun yang dapat menyurutkan langkah mantapnya, dan ia tak perlu berkeluh kesah dan mengungkit-ungkit apa yang terjadi didepan kawan-kawanya. Tak seorang pun tahu pasti apa yang telah dilakukanya, karena hanya Dialah Yang Maha Tahu. Diakala yang lain meminta pengakuan dan pemakluman, Sang Al Akh tak menghiraukan apalah kata dunia. Dia hanya berujar, “sungguh itu terjadi karena kealpaanku!”, dan setiap apa yang telah dilakukan pastilah ia tahu konsekuensinya. Seketika itu lalu keluarlah kata-kata pengharapan kepada Rabbnya, semoga hal itu tidak terjadi untuk yang kedua kalinya dan semoga Allah tetap meridhoi perjalanan pada langkah berikutnya.

Keyakinan “Dialah yang menjamin bahwa setiap hal yang terjadi telah diperhitungkan sesuai dengan kadar kesanggupaanya” menjadikan sang Al Akh selalu menegakkan kepalanya untuk menatap jauh di masa depan yang penuh dengan warna kecerahan. Ia tak gusar biarpun orang-orang disekitar mulai meregang dan menjauh dari jangkauanya, meskipun mereka adalah sahabat-sahabatnya sendiri. Tidaklah ada hak untuk memaksa siapapun untuk berada pada jalan yang benar, karena tugas sang Al Akh adalah hanya memberikan Nasihat dan Peringatan. Dan sang Al Akh hanya fokus pada apa yang menjadi tanggung jawabnya. Sehingga biarpun seluruh kaki dan tangan telah tertebas parah, namun mulutpun masih dapat berbicara untuk menunaikanya.

Seruan dan panggilan kebenaran tak satupun terlewatkan, kecuali karena alpa dengan begitu besarnya resonansi. Tak ada niatan apapun kecuali hanya balasaNyalah yang tersirat jelas. Kelelahan, payah, penat sekali lagi adalah hal yang lumrah bagi seorang Al Akh, dan dia akan terus memompa ghirohnya hingga pada batas limit kesanggupan. Sesekali orang lain mengamati perubahan sikap yang agresif itu sebagai tindakan yang tak wajar. Namun hal itu perlakuan yang biasa dipilih untuk menaikkan moral setip sel-sel diriny yang telah lesu bekerja.

Tetap mengingat Rabb semesta dikala apapun bisa menjadi penawar segala buaian dahaga, dan itulah rutinitas yang selalu diikhtiarkan oleh sang Al Akh untuk menjaga militansinya.

No comments:

Post a Comment